Kedewasaan seseorang tidak ditentukan oleh faktor usia.
Namun faktor usia inilah yang menentukan banyaknya peristiwa yang terjadi dalam hidup seseorang, baik itu peristiwa menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan.
Sebagian besar orang lebih cepat mendapatkan pembelajaran hidup dari peristiwa yang tidak menyenangkan dalam hidupnya.
Dan orang yang lebih cepat dewasa adalah orang yang bisa mengambil hikmah dari semua peristiwa dalam hidupnya.

Ada 3 hal yang bisa dijadikan ukuran dari kedewasaan seseorang :
1. Sikap. Tahu bagaimana cara menyikapi suatu masalah yang dihadapi, memiliki simpati dan empati terhadap orang lain dan lingkungannya, menghargai dan menghormati orang lain, dll.
2. Sifat. Senantiasa mengendalikan diri dan bersikap tenang tanpa emosi yang meledak-ledak, tidak egois, sabar, mandiri, dll.
3. Tanggung jawab. Bertanggung jawab dan mampu menerima konsekuensi dari tindakannya.
Ketiga hal tersebut adalah beberapa kriteria yang menunjukkan kedewasaan seseorang. Namun yang paling penting dari suatu kedewasaan adalah bagaimana dia bisa survive dalam menghadapi masalah seburuk apapun dalam hidupnya.
Menurut pengamatan saya, jika kita membandingkan antara anak jalanan dan anak mami yang orang tuanya over protektif. Maka walaupun mungkin anak mami tersebut bisa menjadi orang yang besar, tapi belum tentu dia bisa menjadi orang yang dewasa dan mandiri. Berbeda dengan anak jalanan yang selalu mandiri dan dewasa, meskipun usianya baru 7-12 tahun bisa jadi pola pikirnya seperti orang berusia 20-30 tahun.
Mengapa demikian?
Karena sebagian besar orang belajar dari peristiwa buruk yang dia alami, dan anak jalanan sejak kecil sudah bersahabat dengan peristiwa buruk dan kerasnya kehidupan yang sebenarnya. Berbeda dengan anak mami yang hampir tidak pernah mengalami peristiwa buruk karena dia selalu berada di bawah lindungan ketiak orang tuanya, anak ini akan lebih lambat proses pendewasaannya. Berdasarkan pengamatan secara sederhana saja, anak mami ini sebagian besar tumbuh menjadi anak yang egois dan kurang memiliki simpati dan empati kepada orang lain, karena baginya semua hal di dunia ini sangat mudah dihadapi karena ada orang tuanya. Tapi begitu dia "jatuh", maka anak mami ini bisa hancur secara mental.
Jika orang tua ingin anaknya dewasa, maka lepaskanlah anak itu tapi tetap diawasi dan dibimbing. Jika orang tua terus menerus menggenggam anaknya, sampai tua pun anaknya tidak akan dewasa.
Mungkin banyak yang tidak sependapat dengan pemikiran saya ini, namun itulah yang saya dapatkan berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama 23 tahun. Tiap orang memiliki pengalaman dan pengamatan yang berbeda-beda, wajar saja jika pemikirannya berbeda-beda.
*Nunu*
Namun faktor usia inilah yang menentukan banyaknya peristiwa yang terjadi dalam hidup seseorang, baik itu peristiwa menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan.
Sebagian besar orang lebih cepat mendapatkan pembelajaran hidup dari peristiwa yang tidak menyenangkan dalam hidupnya.
Dan orang yang lebih cepat dewasa adalah orang yang bisa mengambil hikmah dari semua peristiwa dalam hidupnya.

Ada 3 hal yang bisa dijadikan ukuran dari kedewasaan seseorang :
1. Sikap. Tahu bagaimana cara menyikapi suatu masalah yang dihadapi, memiliki simpati dan empati terhadap orang lain dan lingkungannya, menghargai dan menghormati orang lain, dll.
2. Sifat. Senantiasa mengendalikan diri dan bersikap tenang tanpa emosi yang meledak-ledak, tidak egois, sabar, mandiri, dll.
3. Tanggung jawab. Bertanggung jawab dan mampu menerima konsekuensi dari tindakannya.
Ketiga hal tersebut adalah beberapa kriteria yang menunjukkan kedewasaan seseorang. Namun yang paling penting dari suatu kedewasaan adalah bagaimana dia bisa survive dalam menghadapi masalah seburuk apapun dalam hidupnya.
Menurut pengamatan saya, jika kita membandingkan antara anak jalanan dan anak mami yang orang tuanya over protektif. Maka walaupun mungkin anak mami tersebut bisa menjadi orang yang besar, tapi belum tentu dia bisa menjadi orang yang dewasa dan mandiri. Berbeda dengan anak jalanan yang selalu mandiri dan dewasa, meskipun usianya baru 7-12 tahun bisa jadi pola pikirnya seperti orang berusia 20-30 tahun.
Mengapa demikian?
Karena sebagian besar orang belajar dari peristiwa buruk yang dia alami, dan anak jalanan sejak kecil sudah bersahabat dengan peristiwa buruk dan kerasnya kehidupan yang sebenarnya. Berbeda dengan anak mami yang hampir tidak pernah mengalami peristiwa buruk karena dia selalu berada di bawah lindungan ketiak orang tuanya, anak ini akan lebih lambat proses pendewasaannya. Berdasarkan pengamatan secara sederhana saja, anak mami ini sebagian besar tumbuh menjadi anak yang egois dan kurang memiliki simpati dan empati kepada orang lain, karena baginya semua hal di dunia ini sangat mudah dihadapi karena ada orang tuanya. Tapi begitu dia "jatuh", maka anak mami ini bisa hancur secara mental.
Jika orang tua ingin anaknya dewasa, maka lepaskanlah anak itu tapi tetap diawasi dan dibimbing. Jika orang tua terus menerus menggenggam anaknya, sampai tua pun anaknya tidak akan dewasa.
Mungkin banyak yang tidak sependapat dengan pemikiran saya ini, namun itulah yang saya dapatkan berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama 23 tahun. Tiap orang memiliki pengalaman dan pengamatan yang berbeda-beda, wajar saja jika pemikirannya berbeda-beda.
*Nunu*

Jadi tua itu pasti, dewasa itu pilihan
ReplyDeleteew kk ew...
ReplyDelete