Ini adalah kisah nyata seorang teman yang super malas.
Dia sangat phobia dengan membaca dalam bentuk apapun, kalau baca tulisan agak panjang sedikit langsung pusing.
Jika dilihat dari perjalanan pendidikannya, betul-betul aneh tapi nyata sekali.
Dia baru bisa membaca dengan lancar saat kelas 3 SD, tapi dia selalu jadi juara kelas sejak kelas 1 SD.
Yang bikin heran adalah jika baru bisa baca saat kelas 3 SD, lalu waktu kelas 1 dan kelas 2 SD nya bagaimana mungkin dia bisa jadi juara kelas??
Dia sangat phobia dengan membaca dalam bentuk apapun, kalau baca tulisan agak panjang sedikit langsung pusing.
Jika dilihat dari perjalanan pendidikannya, betul-betul aneh tapi nyata sekali.
Dia baru bisa membaca dengan lancar saat kelas 3 SD, tapi dia selalu jadi juara kelas sejak kelas 1 SD.
Yang bikin heran adalah jika baru bisa baca saat kelas 3 SD, lalu waktu kelas 1 dan kelas 2 SD nya bagaimana mungkin dia bisa jadi juara kelas??

Bisa membaca bukan berarti suatu kemajuan dalam hal belajar, walaupun sudah bisa membaca tetapi alerginya terhadap membaca terus berlanjut.
Alhasil semua buku-buku pelajarannya selalu mulus dan bagus terus, begitu ujian akhir bukunya langsung rusak parah.
Ternyata dia menerapkan pola belajar 3 jam sebelum ujian untuk menghabiskan semua materi di buku tersebut.
Gila memang kedengarannya, tapi pola belajar seperti itu sangat efektif hingga dia kuliah.
Nilai-nilai akademiknya bisa dibilang cukup memuaskan untuk effort yang sangat rendah.
Alhasil semua buku-buku pelajarannya selalu mulus dan bagus terus, begitu ujian akhir bukunya langsung rusak parah.
Ternyata dia menerapkan pola belajar 3 jam sebelum ujian untuk menghabiskan semua materi di buku tersebut.
Gila memang kedengarannya, tapi pola belajar seperti itu sangat efektif hingga dia kuliah.
Nilai-nilai akademiknya bisa dibilang cukup memuaskan untuk effort yang sangat rendah.
Yang ajaibnya lagi adalah waktu dia kuliah, dia mengerjakan Tugas Akhir hanya dalam waktu 3 minggu saja.
3 minggu ini dihitung dari mulai awal bimbingan sampai dia sidang sarjana.
Yang lebih ajaib lagi adalah bahkan dosen-dosen pengujinya tidak memahami materi tugas akhirnya, sampai dia ditawari untuk menulis jurnal tentang tugas akhirnya.
Sementara mahasiswa lain harus merevisi tugas akhir di sana sini, dia hanya merevisi judul dari tugas akhirnya.
Lucunya, sebenarnya dia sendiri kurang menguasai topik tugas akhirnya, dia membuat tugas akhirnya itu karena tuntutan dosen pembimbingnya agar tugas akhirnya lebih bagus daripada anak pasca sarjana.
3 minggu ini dihitung dari mulai awal bimbingan sampai dia sidang sarjana.
Yang lebih ajaib lagi adalah bahkan dosen-dosen pengujinya tidak memahami materi tugas akhirnya, sampai dia ditawari untuk menulis jurnal tentang tugas akhirnya.
Sementara mahasiswa lain harus merevisi tugas akhir di sana sini, dia hanya merevisi judul dari tugas akhirnya.
Lucunya, sebenarnya dia sendiri kurang menguasai topik tugas akhirnya, dia membuat tugas akhirnya itu karena tuntutan dosen pembimbingnya agar tugas akhirnya lebih bagus daripada anak pasca sarjana.
Kalau saya mendengar cerita teman saya ini benar-benar lucu dan susah untuk percaya bahwa ini adalah kisah nyata yang benar-benar terjadi.
Intinya adalah sebenarnya semua orang memiliki potensinya masing-masing.
Jadi jangan khawatir jika memiliki anak atau saudara yang sangat malas belajar atau bahkan mungkin phobia membaca seperti teman saya itu.
Karena malas bukan berarti bodoh, hanya kurang motivasi saja.
Atau mungkin merasa bosan karena dianggap tidak menantang.
*Nunu*
Jadi jangan khawatir jika memiliki anak atau saudara yang sangat malas belajar atau bahkan mungkin phobia membaca seperti teman saya itu.
Karena malas bukan berarti bodoh, hanya kurang motivasi saja.
Atau mungkin merasa bosan karena dianggap tidak menantang.
*Nunu*



